sulis

Rabu, 11 Mei 2011

Untuk Istriku Tercinta

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar.
Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata.
Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan.
Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,” kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian.Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.
Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Renungan Malam


PDF Print E-mail
wednesday, 11 mei 2011 19:47
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah ke ibu anda. Hmm....kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh waktu kita bayi itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu....ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat...semuanya orang - orang yang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu...... Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Allah SWT mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah- wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata : " Betapa lelahnya aku hari ini" dan apa penyebab lelah itu ?.......juga untuk siapa dia berlelah-lelah ? Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik anak-anak juga mengurus rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

**Renungan untuk kita semua...

Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka nanti malam.....rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua...........
Bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu tak membuka matanya..selamanya!"

(Semoga bermanfaat)



Minggu, 23 Januari 2011

CINTA KASIH DAN PENGORBANAN, OBAT UNTUK AMARAH DAN NAFSU




 
Amarah lahir dari nafsu. Nafsu timbul dari pikiran. Karena itu, pikiranlah yang bertanggung jawab atas amarah dan nafsu. Engkau tidak dapat memperoleh kain tanpa benang dan benang tanpa kapas, demikian pula engkau tidak dapat memperoleh amarah tanpa nafsu, dan nafsu tanpa pikiran. Dalam Gita, Guru Dewa menamakan nafsu dan marah itu analam, secara harfiah artinya 'api'. Ada bahaya terkena panasnya api walaupun api itu agak jauh dari engkau. Bila api yang menyala di luar dirimu berbahaya, maka betapa engkau harus lebih berhati-hati bila api itu berkobar dalam hatimu. Api hawa nafsu dan amarah ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menghancurkan seluruh kualitas manusia dan memadamkan percikan ketuhanan yang ada dalam hatimu sehingga hanya sifat setan yang masih ada. Api nafsu ini tidak mempunyai tujuan jangka panjang; ia tidak akan reda setelah mencapai suatu tujuan; sebaliknya, ia tidak pernah merasa puas. Seleranya yang menggelora tak kunjung padam. Bahan bakar apa pun engkau masukkan ke dalam api, entah kayu, minyak, atau yang lain-lain, tidak akan pernah cukup Kata alam berarti 'kepuasan', dan analam artinya 'tanpa kepuasan'. Api nafsu dan amarah ini yaitu analam, tidak mengenal kepuasan sama sekali.
Hampir semua barang di dunia ada batasnya, tetapi lapar api ini tidak mempunyai batas sama sekali. Karena sifatnya seperti itu, bagaimana cara mengendalikannya? Tuhan berkata dalam Gita, "Engkau dapat menaklukkan nafsu dengan penyangkalan diri dan pengorbanan." Di mana ada cinta kasih, di sana tidak akan ada amarah. Jika engkau mengembangkan cinta kasih, tidak akan ada tempat di hatimu bagi kebencian dan amarah. Hati itu ibarat kursi untuk satu orang, hanya dapat diisi dengan satu kualitas, kualitas lain tidak dapat masuk atau mendudukinya pada saat yang sama. Seorang pengabdi harus berusaha membina kasih dalam hatinya. Jika engkau hendak menaklukkan amarah dengan cinta kasih, engkau harus mengembangkan cinta kasih dengan cara yang mulia. Cinta kasih selalu bersedia memancar bebas, memaafkan atau mengabaikan cacat cela dan kelemahan orang lain. Cinta kasih mempunyai kualitas yang luar biasa, ia hidup dengan memberi dan memaafkan, sedangkan ego atau sang 'aku kecil' hidup dengan memberi dan memaafkan, sedangkan ego atau sang 'aku kecil' hidup dengan mendapat dan melupakan. Di mana ada cinta kasih, tidak ada tempat bagi egoisme, dan di mana ada egoisme, tidak akan ada cinta kasih.
Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak dapat kau capai bila engkau memancarkan cinta kasih. Dengan cinta kasih engkau dapat mengatasi segala hambatan. Karena itu, untuk mengalahkan amarah secara tuntas, engkau harus mengisi hatimu dengan cinta kasih dan menjadikan kasih sebagai suatu kemampuan yang berpengaruh atau paling penting dalam hidupmu. Bila engkau menyadari bahwa penghuni hatimu adalah penghuni setiap hati manusia, bahwa Tuhan yang kau puja yang duduk di singgasana hatimu juga bersemayam dalam setiap hati manusia maka tidak mungkin engkau bisa membenci atau marah pada siapa pun juga di dunia ini. Bila Tuhan Yang Esa itu ada dalam setiap hati manusia, bagaimana mungkin engkau memandang rendah dan menghina orang lain. Karena itu, penuhilah dirimu dengan kasih dan binalah hingga tak terhapuskan lagi dari dalam hatimu.
Seperti telah diutarakan sebelumnya oleh Swami, bila cinta kasih dikaitkan dengan pikiran, ia menjadi kebenaran, bila cinta kasih dijadikan dasar perbuatan, perbuatanmu menjadi dharma, bila perasaanmu dijiwai oleh cinta kasih, hatimu penuh dengan kedamaian yang tertinggi, dan bila engkau menjadikan cinta kasih sebagai penuntun pengertian dan cara berpikirmu, maka akal budimu akan dijiwai oleh sikap tanpa kekerasan. Karena itu, kasih adalah kebenaran, kasih adalah kebajikan, kasih adalah kedamaian, kasih adalah tanpa kekerasan. Semua sifat yang agung itu didasari oleh cinta kasih. Jika pikiranmu tidak dijiwai oleh cinta kasih, tidak akan ada kebenaran. Jika cinta kasih tidak menjiwai perbuatanmu, tidak akan ada dharma. Jika engkau tidak merasakan cinta kasih dalam hatimu, tidak akan ada kedamaian. Dan jika engkau tidak melandasi pikiranmu dengan cinta-kasih, tanpa kekerasan tidak akan menetap dalam akal budimu. Jadi, seperti gula adalah bahan baku dari segala macam gula-gula, demikian juga cinta kasih adalah bahan pokok untuk sathya 'kebenaran', dharma 'kebajikan', shanti 'kedamaian', dan ahimsa 'tanpa kekerasan. Cinta kasih adalah ketuhanan itu sendiri. Cinta kasih adalah Tuhan dan Tuhan adalah cinta kasih. Cinta kasih adalah kemampuan Tuhan yang menghidupkan segala-galanya. Dengan cinta kasih engkau dapat dengan mudah mengalahkan kebencian dan kemarahan. Karena itu, hiduplah selalu dalam kasih.
Amarah dapat menjadi sumber bermacam-macam kesulitan dan menghadapkan engkau pada masalah yang tak terhitung banyaknya. Ia menghancurkan kewibawaanmu dan meruntuhkan prinsip kemanusiaan pada dirimu. Mula-mula amarah masuk dalam bentuk yang sangat halus dan lambat laun memenuhi semuanya. Pada mulanya ketika ia masuk, ia hanya minta tempat yang kecil. "Berilah aku tempat duduk sedikit saja," katanya. Bila sudah mapan, ia berkata, "Sekarang aku akan membuat tempat untuk berbaring dan tinggal di sini." Tetapi, sifat buruk semacam itu jangan kau beri tempat sedikit pun di dalam hatimu. Sekali kau biarkan rasa marah memasuki dirimu, tidak akan mungkin menyingkirkannya. Walau kau jadikan dia teman dan kau beri uang lima juta rupiah ia tidak akan mau meninggalkan engkau. Ia adalah racun paling berbahaya yang tidak boleh kau beri tempat berpijak sedikit pun dalam dirimu.
Pada mobil, lampu belakang terus memberi tanda (peringatan) sebelum mobil berhenti. Demikian pula sebelum kemarahanmu meledak, matamu menjadi merah, bibirmu gemetar, dan seluruh badan menjadi panas. Pada saat engkau menunjukkan gejala ini, sebaiknya tinggalkan segera tempat itu dan carilah tempat yang sepi lalu duduklah sampai perasaanmu tenang kembali. Seperti telah Kukatakan kemarin, dapat juga engkau mandi air dingin. Bila rasa marah dinyatakan dalam kata-kata, hal itu dapat menimbulkan komplikasi dan masalah yang tidak ada habis-habisnya kelak. Walaupun marahmu dapat dibenarkan dan untuk mempertahankan kebenaran, engkau tetap harus belajar untuk mengatakan kebenaran itu dengan cara yang manis yang simpatik, dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain, tanpa menyakiti perasaan orang lain. Karena itu, setiap pengabdi harus belajar mengendalikan amarahnya dengan mengembangkan dan mengisi hatinya dengan cinta kasih.
Sekarang baiklah kita bicarakan tentang bagaimana mengatasi nafsu. Untuk mengalahkan nafsu engkau harus mengembangkan sifat suka berkorban, engkau harus benar-benar mempraktekkan penyangkalan diri. Penyangkalan diri tidak berarti bahwa engkau meninggalkan keluarga dan pergi ke hutan; juga tidak berarti bahwa engkau harus meninggalkan harta bendamu dan menjadi pertapa. Sesudah engkau menyadari cacat suatu benda, sesudah engkau mengetahui sifat kesementaraannya dan bahwa ia tidak berguna dalam usahamu mencapai tujuan, dengan sendirinya engkau tidak akan menginginkannya lagi, bahkan pada waktu menempuh hidup berumah tangga yang penuh dengan kesibukan duniawi, engkau dapat mengetahui cacat dan kelemahan hal-hal yang bersifat duniawi. Umpamanya, barangkali ada makanan tertentu yang sangat kau sukai, mungkin di piringmu telah tersedia beraneka ragam hidangan yang terbuat dari makanan itu, dan engkau telah siap akan menyantap dengan penuh selera, tetapi tiba-tiba juru masak datang dan berkata. "Tuan, jangan makan hidangan itu, ada serangga beracun yang jatuh dan mati di dalamnya." Begitu engkau mendengar hal ini dan tahu kalau makanan itu berbahaya bila dimakan, engkau tidak akan mau memakannya sekalipun sebelumnya engkau sangat menyukai hidangan itu dan ingin sekali menikmati.
Begitu pula engkau harus mengetahui sifat atau keadaan benda-benda duniawi. Mereka terus mengalami perubahan dan pada suatu saat kelak tidak ada lagi. Setelah menyadari hal ini, bagaimana mungkin engkau tetap ingin mendapatkan dan ingin terus menikmatinya? Makanan hanyalah obat untuk penyakit yang disebut lapar. Bagaimana mungkin hal ini dapat menjadi kegemaran yang mewah? Bila engkau sakit dan diberi obat, apakah engkau akan menolaknya jika obat itu terasa tidak enak? Karena itu, ketahuilah kenyataan bahwa benda-benda yang kau pergunakan di dunia ini semata-mata obat untuk penyakit yang kau derita.
Bila penyakit akan sembuh, kebutuhan akan obat berkurang. Bila engkau sehat engkau sama sekali tidak perlu minum obat; tetapi bila engkau harus minum obat yang tepat yang dapat menyembuhkan penyakit. Engkau tidak bisa menolak obat hanya karena kurang enak dan kurang sedap cita rasanya, tetapi ingin supaya sembuh. Sekarang engkau mengejar berbagai hal yang menarik dan enak yang tidak akan menyembuhkan penyakitmu, tetapi sebaliknya akan membahayakan. Engkau gembira karena engkau mengalami hal-hal yang menyenangkan di dunia dan hidupmu sangat senang menikmati berbagai hal yang tampaknya memberimu kesenangan hidup dan kegembiraan. Tetapi semua itu bukan kesenangan yang sejati karena kelak engkau pasti harus menghadapi akibatnya jika sekarang engkau mengumbar dirimu.
Bayangkan sebuah pohon dengan cabang-cabangnya yang berbunga dan berbuah lebat. Pohon itu kelihatan hebat dan menarik. Pada suatu hari pohon ini mengering dan kembangnya berguguran. Apakah karena kekurangan air atau pupuk? Apakah karena lalai memberi makan? Tidak, ada semacam hama yang menyerang akarnya dan mematikan pohon yang indah ini. Demikian pula bila engkau membiarkan hawa nafsu dan kebencian memasuki hatimu, maka pada suatu hari engkau akan hancur secara tiba-tiba. Hal ini pasti terjadi.
Dalam dunia yang fana ini engkau mengira bahwa orang kaya adalah orang yang sangat penting, tetapi dalam dunia spiritual kekayaan duniawi tidak ada artinya. Amal kedermawanan adalah sifat yang jauh lebih besar artinya daripada segala harta kekayaan. Jika tidak ada amal kedermawanan, harta kekayaan tidak ada nilainya sama sekali. Engkau mempunyai empat anak, masing-masing akan meminta hartamu. Yang pertama adalah amal kedermawanan. Yang kedua adalah pemerintah. Yang ketiga pencuri. Dan yang keempat api. Masing-masing ingin mewarisi kekayaanmu, tetapi jika engkau serahkan seluruh kekayaan kepada anak pertama, yaitu amal kedermawanan, maka yang lain tidak akan mendapat bagian. Bila kau dermakan dengan tulus dan ikhlas untuk amal, engkau akan melihat bahwa ketiga lainnya akan menghargai keputusanmu dan tidak akan menuntut hak mereka.
Umpamanya kita mengetahui bahwa pemerintah memberikan pembebasan pembayaran pajak penghasilan bila kita menyumbang untuk amal. Bahkan api pun akan takut kepadamu dan pencuri tidak akan mengganggu engkau. Jadi, bila engkau memberi untuk amal yang diibaratkan sebagai putra yang patut menerima warisan, maka lain-lainnya yang mestinya akan berusaha menuntut kekayaanmu akan menghormati tindakanmu dan tidak ingin mengganggu. Tetapi, bila engkau memiliki harta benda dan tidak melakukan amal kedermawanan, pencuri akan melirik kekayaanmu dan pemerintah juga akan berusaha mengambil bagian dari kekayaanmu itu. Jika mereka berdua karena suatu hal tidak dapat berbuat apa-apa, maka pada suatu hari api akan membinasakan milikmu itu. Karena itu Gita telah menyimpulkan bahwa amal kedermawananlah yang sesungguhnya amat penting, bukan kekayaan.
Begitu pula dalam kehidupan manusia, bukan kefasihan berbicaralah yang penting, melainkan kebenaran yang diucapkan. Jika tidak akan ada kebenaran dalam ucapanmu maka apa pun yang kau katakan tidak akan ada nilainya sama sekali. Gita juga mengajarkan bahwa bukan hidup itu sendiri yang penting, melainkan watak yang baik. Hidup tanpa watak yang baik tidak ada gunanya. Engkau harus mengembangkan watak yang baik dan memperoleh nama yang harum sehingga asas kemanusiaan akan bersinar dalam dirimu. Tugasmu yang amat penting adalah mempunyai pikiran yang baik, perbuatan yang baik, berbicara yang baik, dan hidup yang benar. Engkau harus sangat berhati-hati dengan kata-kata dan perbuatanmu sehingga engkau tidak mendapat nama yang buruk. Daripada hidup seratus tahun sebagai gagak pemakan bangkai binatang lain, jauh lebih baik hidup beberapa saat sebagai angsa dengan nama yang tidak tercela dan watak yang tak bernoda. Gita menamakan manusia yang mulia itu yang hidupnya penuh dengan kebaikan, adalah seorang Paramahamsa (manusia yang sangat suci).
Perbuatan yang baik jauh lebih penting daripada kemampuan fisik. Badan yang tidak digunakan untuk membantu orang lain tidak ubahnya seperti mayat. Gunakanlah badanmu untuk mengabdi umat manusia, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri yang egois. Dewasa ini apa pun yang dilakukan, dipikirkan, atau diucapkan oleh seseorang, terutama terdorong oleh kepentingan diri sendiri. Untuk mengatasi kecenderungan ini engkau harus selalu mencari kesempatan untuk menolong orang lain dan mengembangkan prinsip bhakti sosial ini. Dalam proses ini, dengan perbuatanmu yang baik, seluruh umat manusia akan tersucikan. Sangat sulit untuk lahir sebagai manusia. Engkau harus merenungkan bagaimana caranya memanfaatkan dengan baik kesempatan hidup yang langka ini yang telah dikaruniakan kepadamu, serta mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang akan dapat mengatasi kelemahan nafsu dan amarah yang menyebabkan tersia-sianya kesempatan baikmu ini. Bagaimana caranya mengatasi kebiasaan buruk yang telah mengakar dan menggantikannya dengan kebiasaan baik? Ada sebuah contoh.
Pada suatu hari seekor anjing yang bagus kebetulan masuk ke rumahmu; engkau tidak tahu siapa pemiliknya. Binatang itu sangat menarik. Agar ia mau diam sebentar dan engkau dapat menikmati keindahannya, engkau beri anjing itu makanan. Keesokan harinya kira-kira pada waktu yang sama anjing itu datang lagi dan kau beri makan lagi karena engkau senang dikunjung olehnya. Demikianlah setiap hari anjing itu datang untuk mencari makanan dan lambat laun setelah beberapa lama, rasa sayangmu bertambah dan anjing ini datang secara teratur serta tinggal lebih lama di rumahmu. Suatu saat, ia tidak mau pergi lagi dan sejak waktu itu ia terus tinggal di rumahmu. Tetapi kebahagiaan yang kau nikmati dengan melihat keindahan fisik tidak berlangsung lama; setelah keindahan itu tidak lagi diikuti oleh kebahagiaan, engkau merasa muak. Dalam hal anjing ini, engkau bosan melihatnya terus menerus, lalu engkau mencari akal untuk membebaskan diri dari anjing tersebut.
Mula-mula engkau harus bertanya kepada dirimu sendiri mengapa anjing itu menyukai engkau dan sekarang tinggal di rumahmu. Sebabnya adalah dari sejak semula engkau memberinya makan setiap hari, engkau juga membelainya, mengaguminya dan sangat memperhatikannya. Perbuatan yang berulang setiap hari inilah yang menimbulkan keterikatan antara engkau dan anjing itu. Sekarang engkau harus mengembangkan kebiasaan yang baru (abhyasa) yang akan memutuskan keterikatan ini dan membantumu menyingkirkan anjing itu. Untuk ini cara yang terbaik adalah membalik proses semula yang telah menimbulkan keterikatan dan membuat engkau sangat cinta kepada benda itu.
Dalam masalah anjing ini, jika ia tidak diberi makan selama beberapa hari dan semua orang tidak mengacuhkannya, tidak memperhatikannya sama sekali, maka anjing itu akan segera pergi dengan kemauannya sendiri. Karena itu, kebiasaanlah yang penting, melalui kebiasaan engkau mengembangkan beberapa keterikatan tertentu dan memperoleh sifat-sifat yang tidak diinginkan, dan melalui perbuatan yang berulang-ulang juga engkau dapat mengubahnya. Bhagawad Gita mengatakan bahwa segala kebiasaan dimulai dengan berbuat. Bab Bhakti Yoga ayat keduabelas mengatakan, "Melalui latihan engkau dapat memperoleh ilmu pengetahuan, melalui ilmu pengetahuan engkau dapat menjalankan meditasi, melalui meditasi engkau dapat menumbuhkan semangat pengorbanan, dan hanya bila engkau telah melakukan pengorbanan engkau akan mendapat kedamaian batin." Karena itu, segala sesuatu dimulai dengan abhyasa atau perbuatan yang berulang-ulang.
Selama berkali-kali kelahiran engkau telah terpikat oleh kecantikan dan dikuasai oleh keinginan serta amarah hingga hawa nafsu ini telah mendarah daging. Kini engkau telah menjadi budak nafsu. Sekedar kata-kata tidak akan berhasil menyingkirkannya. Setelah terjadi keterikatan begitu lama, sifat-sifat negatif ini telah berurat akan sehingga walaupun batangnya kau potong pada permukaan, ia akan tumbuh kembali. Bila nafsu telah menjadi bagian dirimu, hanya dengan membalik proses dan dengan mempraktekkan sikap yang tak terpengaruh serta penyangkalan diri, engkau akan mampu menyingkirkan hamba yang telah bersarang dalam dirimu. Mula-mula nafsu sangat menarik dan menyenangkan. Lama kelamaan engkau akan merasa muak, tetapi pada saat itu sudah sangat sulit bahkan sebenarnya hampir tidak mungkin menghilangkannya. Karena itu, yang paling baik bila sejak semula engkau mengembangkan sikap tidak terpengaruh dan penyangkalan diri sebagai bagian dari sifatmu dan jangan memberi tempat atau mementingkan keinginan dan hawa nafsu. Jika engkau tidak mempunyai keikhlasan berkorban dan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, engkau tidak siap menerima rahmat Tuhan.
Sapi atau kuda yang tidak dapat dikendalikan, mobil tanpa rem, atau hidup tanpa pengendalian indera, semuanya berbahaya. Pengendalian indera itu sangat penting. Dalam Yoga Sutra, Patanjali menandaskan perlunya pengendalian yang ketat atas kecenderungan pikiran untuk berlari ke segala jurusan mengikuti nafsu. Pikiran dan indera harus dikendalikan dan dibatasi, bahkan kebahagiaan yang melebihi batas dapat berbahaya. Segala sesuatu ada batasnya, ada batas-batas yang wajar.
Suhu badan yang normal 37°C, jika naik satu derajat saja berarti akan ada suatu penyakit. Hanya bila suhu itu berada pada batas-batas yang tepat, hal itu menandakan bahwa badan kita sehat. Demikian pula tekanan darah kita dikatakan normal bila angka menunjukkan 120 di atas 80. Jika tekanan naik sampai 150 di atas 90, hal itu menandakan kondisi badan kita tidak normal, mungkin suatu tanda bahwa kita sakit. Demikian juga denyut nadi kita seharusnya sekitar 75, jika meningkat akan ada suatu penyakit. Begitu juga dengan matamu, ia berfungsi dengan baik sampai batas cahaya tertentu. Jika cahaya tidak terlalu terang, mata tidak dapat melihat dan akan rusak. Sama halnya dengan telinga, bunyi yang dapat didengar terbatas. Jika tingkat bunyi melebihi batas itu, misalnya di dekat pesawat udara, kereta api, atau pengeras suara, pendengaran akan terganggu.
Kita melihat bahwa hidup ini hampir sama dengan perusahaan terbatas. Jika engkau akan melakukan usaha dagang terlalu luas dengan kemampuan perusahaan yang terbatas, engkau akan menanggung beban terlalu besar. Karena itu, engkau harus membatasi tingkah lakumu dan menempuh hidupmu dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Hal ini juga dapat dinamakan disiplin. Disiplin sangat perlu untuk kemajuan hidup spiritual seseorang, tanpa disiplin, manusia tidak berbeda dengan binatang. Tetapi disiplin pun harus dilaksanakan dalam batas-batas tertentu; bahkan disiplin perlu diatur jika engkau ingin menikmati hidup. Engkau mengetahui bahwa segala sesuatu ada batasnya, jika engkau tetap berada dalam batas-batas itu, engkau tidak akan mengalami kesulitan dalam hidupmu.
Engkau harus memperhatikan dua musuh manusia yang mengerikan ini, yaitu kama dan krodha 'nafsu' dan 'amarah', dan berusahalah mengendalikan mereka. Musuh-musuh ini tidak berada di luar dirimu, melainkan ada dalam dirimu. Jika engkau dikalahkan oleh musuh dalam dirimu, bagaimana engkau berharap dapat mengalahkan musuh di luar dirimu? Tetapi jika engkau mampu menguasai musuh dalam dirimu, musuh-musuhmu yang lain dapat ditaklukkan dengan mudah. Bhagawad Gita mengajarkan bahwa nafsu dan amarah merupakan hambatan utama menuju pembebasan, karena itu penting sekali mereka harus dikuasai. Pada hari mendatang akan kita bicarakan musuh-musuh lain yang menghalangi jalanmu, seperti kedengkian dan kekikiran.

SUCIKAN DIRIMU, USAHAKAN AGAR PERBUATAN, PIKIRAN, DAN PERKATAANMU SELARAS

SUCIKAN DIRIMU, USAHAKAN AGAR PERBUATAN, PIKIRAN, DAN PERKATAANMU SELARAS
Pikiran merupakan titik pusat bagi roda kehidupan, suatu titik sumber dari segala kegiatan duniawi. Agar dapat menembus titik pusat ini dan memperoleh penampakan atma atau diri yang abadi, wairagya amat penting.

 
Wairagya artinya ketidakterikatan atau pengunduran diri yaitu ketidakterikatan pikiran dan indera dari objek-objek duniawi. Pikiran menutupi diri yang sejati karena itu, kadang-kadang pikiran digambarkan sebagai selubung yaitu selubung kekaburan batin yang menutupi atma. Pikiran sendiri terikat oleh panca indera, dan panca indera tertarik oleh objek-objek indera serta sekaligus terikat olehnya. Karena itu, langkah pertama ialah mengendalikan panca indera, untuk ini ketidakterikatan sangat penting.
Bila engkau sudah tidak terikat pada objek-objek indera, maka panca indera tidak dapat lagi mengikuti pikiran dan perasaanmu. Pikiran serta perasaan yang bebas dari ikatan indera akan menjadi suci dan jernih, ia tidak akan menggunakan pengaruhnya lagi untuk menutupi atma. Bila selubung pikiran itu lenyap maka diri yang sejati akan mendapat penampakan dirinya yang esa. Kemudian engkau akan menyatu dalam kemanunggalan dengan semua yang ada dan menikmati ananda yang merupakan sifatmu yang sejati. Gita telah mengajarkan kepada kita bahwa wairagya 'pengunduran diri' sangat penting untuk menyadari atma.
Hal ini diajarkan juga dalam Yoga Sutra Patanjali yang menyatakan bahwa ketidakterikatan adalah pikiran yang tidak terpengaruh oleh indera dan objek-objek yang menarik indera itu. Pikiran yang demikian itu, karena tidak diperbudak oleh indera dan objek-objek indera adalah suci dan tidak terpengaruh oleh maya. Engkau mencapai kesucian pikiran bila engkau memandang semua objek duniawi sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan selalu berubah. Telah dijelaskan dalam Upanishad bahwa makhluk dunia dari yang paling rendah hingga yang paling mulia, bahkan makhluk-makhluk surgawi pun tidak langgeng dan berubah terus. Menyadari hal ini engkau harus melepaskan semua keterikatan kepada objek-objek indera; setiap keterikatan lambat laun pasti akan membelenggumu.
Seperti api akan segera mati bila kayu api dibuang, demikian pula bila objek-objek indera disingkirkan, indera menjadi tidak berdaya. Kitab-kitab suci menyatakan dengan jelas bahwa hanya orang yang menganggap surga sekalipun sebagai sesuatu yang tidak berarti, dan orang yang tidak mempedulikan apapun juga kecuali kesadaran atma adalah seorang wairagya sejati, pertapa yang tulen. Ada suatu cerita dalam Katha Upanishad bahwa ketika Nachiketa, seorang anak laki-laki menghadap Yama, Dewa Kematian, Yama berkata kepadanya, "Aku akan membuat engkau menjadi penguasa penuh atas segala kekayaan dan segala kemampuan yang ada di dunia dan aku akan memberimu seluruh kesenangan surgawi." Nachiketa menjawab, "Dunia ini dan semua loka di akhirat hanya bersifat sementara, semua itu tidak langgeng. Saya tidak ingin yang tidak tetap. Saya hanya ingin mendapat penampakan atma. Saya ingin menghayati kebenaran terakhir yang tidak pernah berubah. Dunia dengan belenggunya dan kesengsaraan yang menyertainya adalah untuk orang-orang yang terlena oleh objek-objek indera. Saya tidak tergiur oleh yang demikian itu."
Misalnya engkau tinggal di suatu rumah beberapa lama. Pada suatu saat engkau harus pindah ke tempat lain. Semua barangmu kaukemasi dan kau bawa ke rumah yang baru dengan truk. Biasanya sandal-sandal tua dan sapu-sapu rongsokan pun kau bungkus dan kau bawa semuanya karena engkau merasa memilikinya. Mengapa engkau berbuat seperti itu? Karena engkau telah terikat oleh kelekatanmu pada objek-objek indera itu. Barang-barang tua itu kaukemasi dengan penuh perhatian dan kau bawa karena engkau terikat kepada benda-benda itu, engkau merasa semua itu milikmu. Tetapi ada contoh lain tentang seorang pemimpin perguruan tinggi atau seorang kepala sekolah.
Pada lembaga pendidikan itu tentu ada sejumlah barang yang berharga. Misalnya dalam laboratorium ada alat-alat yang sangat mahal, juga ada banyak meja, kursi, dan beberapa jenis meubel lainnya, jam dinding, dan sebagainya. Bila kepala sekolah ini pensiun atau dipindahkan ke sekolah lain, ia tidak merasa terikat dengan barang-barang berharga yang akan ditinggalkan. Alasannya ialah karena ia tahu betul bahwa tak satu barang pun adalah miliknya. Barang-barang itu adalah milik pengurus, yayasan atau pemerintah. Karena itu, ia meninggalkan sekolah tanpa rasa keterikatan dan tanpa mempedulikan benda tersebut.
Di mana ada rasa "punyaku" atau rasa memiliki, di situ ada penderitaan. Bila engkau tidak punya rasa memiliki engkau tidak akan terikat oleh apa pun dan tidak akan menderita. Karena itu, semua belenggu, penderitaan, dan kesedihan ini hanya disebabkan oleh rasa "keakuan" atau "kemilikan". Seperti halnya kepala sekolah, engkau dapat menggunakan semua benda yang ada di dunia. Benda-benda itu sendiri jangan dibuang dan jangan menghentikan perbuatan serta kegiatanmu. Hal-hal yang dilepas hanyalah keterikatanmu terhadap benda-benda itu dan lepaskan pula keterikatanmu terhadap dunia serta kegiatan-kegiatanmu di dalamnya. Keterikatan ini harus dialihkan dan diubah. Dengan kata lain, janganlah ingin menikmati hasil kegiatanmu. Laksanakan tugasmu tanpa rasa keterikatan sama sekali sambil menyadari cacat cela pada benda-benda itu.
Bila engkau telah mengerti ketentuan-ketentuan yang mengatur dunia dan mengetahui cacat yang merupakan sifat benda duniawi, engkau akan mampu mengatasi keterikatanmu terhadap mereka. Sebelum engkau dilahirkan, siapakah orang tua dan siapakah anak? Sebelum perkawinan, siapakah suami dan siapakah istri? Setelah kelahiranlah ada orang tua dan ada anak. Sebelumnya tidak ada hubungan dan sesudahnya pun tidak akan ada hubungan. Hanya dalam masa transisi yang singkat timbul rasa memiliki dan keterikatan. Semua ini disebabkan oleh kelemahan dalam cara memandang dan cara pendekatanmu. Keterikatan ini timbul karena pikiran yang picik dan pandangan yang sempit.
Segala kesedihan dan penderitaanmu disebabkan oleh perasaan dan sikapmu sendiri. Tidak ada peluang bagi rasa kemilikan bila engkau telah menyadari kelemahan dan kekurangan objek-objek duniawi. Berusahalah memahami asa ketidakterikatan. Engkau haus mencapai suatu tingkat, di saat engkau tidak lagi mempunyai rasa keterikatan atau perbudakan walaupun dalam keadaan mimpi atau keadaan tidur nyenyak sekalipun. Jika dalam keadaan jaga engkau mempunyai rasa keterikatan, keterikatan itu dalam wujud yang halus akan ada pula dalam mimpi dan pada waktu tidur nyenyak. Keadaan dalam alam mimpi dapat diibaratkan seperti bayangan pada cermin. Apa yang kau alami dalam keadaan terjaga, bayangannya akan tampak pada alam mimpi. Karena itu, keadaan pada alam terjaga dan keadaan pada alam mimpi sama seperti benda dan bayangannya. Jika pada alam jaga engkau menempuh jalan yang benar, mengenal kebenaran, dan tingkah lakumu berada pada sinar kebenaran, maka engkau akan menempuh jalan yang benar pula dalam alam mimpi. Agar dapat maju meningkatkan diri dalam alam jaga engkau harus menyadari cacat cela objek-objek indera dan perlahan-lahan mengatasinya dengan cara melepas keterikatanmu pada benda-benda itu.
Karena waktu berjalan terus, segala sesuatu mengalami perubahan. Makanan yang baru dimasak terasa enak dan lezat. Dalam keadaan masih segar makanan itu mempunyai potensi yang sangat baik untuk memberi kemampuan dan kesehatan. Tetapi, setelah berselang dua hari makanan itu akan basi dan beracun. Apa pun juga yang kau anggap baik, berguna, sehat, dan menguntungkan, setelah beberapa lama berubah menjadi sesuatu yang tidak baik, tidak berguna, tidak sehat, dan berbahaya. Begitu pula kita ketahui adanya empat macam pengabdi; aarthi 'yang menderita', aarthaarthi 'yang mengejar anugerah materi', jignasu 'yang menekuni pengetahuan spiritual', dan jnani 'yang bijaksana'. Dengan berlalunya waktu, orang yang sama akan maju melalui semua tahap ini.
Kita juga dapat merenungkan perubahan yang terjadi dalam hidup manusia. Anak yang baru lahir disebut bayi, setelah beberapa tahun ia disebut anak-anak, dua puluh tahun kemudian ia dinamakan orang dewasa, dan tiga puluh tahun berikutnya ia menjadi kakek. Orangnya itu-itu juga, bukan empat orang, tetapi karena waktu terus berlalu, orang itu diberi nama yang berbeda sesuai dengan tahap hidup yang berlainan yang sedang dilaluinya.
Hidup sebagai manusia sulit sekali diperoleh, dan kehidupan ini mengalami banyak perubahan seiring dengan berlalunya waktu. Apabila hal itu berlaku untuk manusia, maka betapa hal ini lebih berlaku bagi semua makhluk dan benda lain di dunia. Jika engkau bertanya, apakah cacat yang paling besar pada manusia, engkau akan mendapati bahwa cacat itu adalah perubahan pada jasmaninya, entah baik entah buruk, perubahan ini tidak dapat dihindarkan. Karena perubahan telah merupakan sifat dari segala sesuatu dalam dunia ini, seyogyanya engkau tidak mengembangkan keterikatan atau rasa "memiliki" sesuatu atau seseorang.
Siapakah ayah? Siapakah ibu? Siapakah anak-anak? Siapakah anggota keluarga? Siapakah teman? Semua ini adalah wujud-wujud yang berubah, engkau tidak bisa memberikan jawaban yang sama selama-lamanya. Bila engkau telah menyadari segala perubahan yang terus terjadi dalam semua hubungan kekerabatan ini maka bagaimana engkau ingin mempunyai keterikatan kepada mereka? Gita telah mengajarkan bahwa kita harus menyadari segala perubahan yang terjadi seiring dengan lewatnya waktu sebagai kelemahan dan cacat yang mendasar. Karena itu kembangkanlah ketidakterikatan sepenuhnya terhadap wujud-wujud yang tidak sempurna yang selalu mengalami perubahan ini, mereka itu tidak langgeng.
Wairagya adalah disiplin penting pertama yang harus dilaksanakan. Yang kedua adalah abhyasa atau pengamalan terus menerus. Pengamalan atau latihan apa yang dapat disebut abhyasa? Salah satu di antaranya adalah tapa 'mati raga'. Pada saat orang mendengar kata tapa ia menjadi agak ketakutan. Ia membayangkan bahwa bertapa itu berarti tinggal di hutan, makan buah-buahan dan umbi-umbian yang ada di sana, dan menantang segala macam resiko serta penderitaan. Sebenarnya hal itu bukan tapa, itu hanya menimpakan hukuman dan penderitaan jasmani pada badanmu.
Bukan badanlah yang harus mengalami penderitaan melainkan pikiran. Tapa adalah upaya menyiksa sifat rajas dan tamas dalam pikiranmu, rasa diri sebagai pelaku, dan rasa memiliki, sehingga hal-hal tersebut lepas dari dirimu. Tapa juga berarti menghilangkan cacat yang terkandung dalam alat indera. Inilah tapa yang sejati. Ada tiga jenis tapa: yang pertama adalah tapa jasmani, yang kedua tapa suara untuk lidah, dan yang ketiga tapa batin.
Tapa jasmani adalah menggunakan badan untuk berbuat baik, termasuk memuja Tuhan dan menyatakan rasa syukurmu dengan melayani para mahatma. Jika engkau mendapat restu mereka, maka rasa keakuan dan rasa kemilikanmu lambat laun akan berkurang. Bila sifat negatif ini berkurang, maka secara otomatis sifat-sifat dan perbuatan yang baik akan berkembang. Engkau akan tertarik pada pergaulan yang baik, kepada satsang. Di sini engkau mulai membaca dan mempelajari Gita, Ramayana, Upanishad, dan kitab-kitab suci agung lainnya.
Selain ini engkau juga akan beramal untuk pendidikan, untuk obat dan rumah sakit, untuk memberi makan orang-orang miskin, dan hal-hl yang baik lainnya, seperti juga kebiasaan beramal secara tradisional seperti menghadiahkan emas, sai, dan tanah, merupakan salah satu cara untuk menggunakan badan dalam kegiatan suci, demikian pula kini engkau tidak akan mengerjakan sesuatu yang merusak atau terlarang, maka engkau tidak menempatkan dirimu di bawah pengaruh rajo dan tamo guna. Engkau melepaskan dirimu dari belenggu rajo dan tamo guna. Engkau melepaskan dirimu dari belenggu kedua sifat ini. Semua ini dapat dianggap sebagai mati raga atau tapa jasmani.
Tapa suara adalah mengucapkan kata-kata yang baik serta mulia. Bahkan pada waktu engkau mengucapkan suatu kebenaran engkau tidak boleh keras atau menusuk perasaan, engkau harus berhati-hati jangan sampai menyakiti hati orang lain. Walau hal itu benar, engkau tidak boleh galak atau melukai orang lain. Dalam hal ini Gita telah mengajarkan bahwa kebenaran itu harus manis dan lemah lembut. Pergunakanlah lidah suci yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu itu untuk memberi kegembiraan dan kebahagiaan serta menolong mereka. Janganlah lidahmu menyebabkan orang lain menderita batin. Pergunakan lidahmu untuk menggambarkan kemuliaan Tuhan. Gunakanlah kata-kata yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Engkau harus mampu menjelaskan kepada orang lain semua pengalaman yang baik dan agung yang telah kau miliki. Engkau patut menunjukkan jalan yang benar bila orang lain menempuh jalan yang keliru, dengan menggunakan kata-kata yang baik dan lemah lembut. Jagalah jangan sampai dusta memasuki hatimu atau memasuki pembicaraanmu. Engkau harus benar-benar mahir melaksanakan kebenaran dan tanpa kekerasan.
Jika engkau mengikuti jalan kebenaran, mungkin akan banyak kesulitan yang harus kau hadapi. Ada seorang resi bijaksana yang sedang bertapa. Ia telah bersumpah untuk menempuh jalan kebenaran dan tanpa kekerasan, apa pun yang terjadi. Seorang pemburu kejam yang mendengar hal ini mencoba membujuk pertapa itu agar membatalkan sumpahnya. Pemburu itu mengejar seekor rusa sedemikian rupa sehingga menjangan tersebut lewat di depan resi yang sedang tekun melakukan tapa. Resi itu melihat rusa bersembunyi dalam semak-semak. Si Pemburu datang berlari-lari dan bertanya kepada pertapa itu, "Apakah Anda melihat rusa lewat di sini?" Resi itu berada dalam konflik batin yang hebat. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, ia akan mencelakakan rusa itu, tetapi jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya, berarti ia melanggar sumpah. Di satu pihak ia akan berdosa karena menyebabkan makhluk lain menderita, di pihak lain ia akan berdosa karena berbohong.
Sang pertapa menemukan jalan yang baik sekali untuk mengatasi dilema ini. Ia menjawab pemburu dengan kata-kata yang membingungkan. Jawabnya: "Mata yang memandang tidak dapat berbicara dan mulut yang bicara tidak dapat melihat. Aku tidak bisa membuat yang melihat itu berbicara dan yang dapat berbicara melihat. Itu suatu kebenaran." Walau pun berada dalam keadaan yang sangat menyulitkan kita tidak boleh mengatakan yang tidak benar, tetapi mungkin kita juga tidak dapat mengatakan yang sebenarnya. Bila engkau melakukan tapa suara, kadang-kadang timbul hal yang sulit seperti ini. Engkau harus melakukan segala usaha agar dapat lolos tanpa mengatakan hal yang tidak benar. Dalam keadaan bagaimana pun jangan berbohong. Jika engkau tidak dapat mengatakan yang sebenarnya lebih baik engkau diam dan tidak berbicara daripada mengatakan yang tidak benar.
Kemudian tapa yang ketiga yaitu tapa batin. Dalam tapa ini engkau harus mengembangkan sifat-sifat yang baik dan kebajikan. Pikiran apa pun yang terlintas dalam benakmu akan tercermin pada wajahmu. Karena itu orang mengatakan bahwa wajah merupakan indeks pikiran. Segala pikiran akan tercermin pada wajahmu. Bila engkau sedang bersedih hati, wajahmu akan memperlihatkan perasaan itu. Bila engkau mempunyai pikiran yang suci wajahmu akan kelihatan riang. Dengan cara ini pengaruh pikiran serta gagasan-gagasannya dapat diketahui dengan mudah.
Hanya bila engkau mempunyai pikiran-pikiran yang suci, perasaan yang suci, dan ide yang suci, hidupmu akan bahagia dan gembira. Kalau pikiranmu sedang kusut, lalu ada orang yang datang untuk berbicara dengan engkau, walaupun engkau berusaha tersenyum, senyummu akan kelihatan tidak wajar dan akan menampakkan perasaan hatimu yang terganggu itu. Jangan sampai engkau terhanyut dalam keadaan seperti itu, usahakan agar hatimu selalu gembira. Bilakah engkau merasa bahagia dan riang? Hanya bila pikiranmu baik dan suci. Agar bisa memiliki pikiran yang baik dan suci, sedapat mungkin engkau harus berlatih mengendalikan pikiran.
Setidak-tidaknya selama beberapa jam sehari engkau harus berlatih untuk diam, tidak berbicara. Dengan demikian pikiranmu akan diistirahatkan dari kegiatan berbicara dan membentuk gelombang pikiran. Konsentrasi kepada Tuhan sambil mengulang-ulang nama-Nya akan menyebabkan kesucian lahir dan batin. Seperti halnya engkau mandi dan membersihkan badan setiap hari, pikiran pun harus dibasuh dan dibersihkan secara teratur agar kesegaran serta kesuciannya pulih kembali. Kini engkau hanya memperhatikan kebersihan jasmani, tetapi kebersihan batin pun tidak kalah pentingnya bagi hidupmu. Pikiran yang baik, perasaan yang baik, dan perbuatan yang baik bersama-sama akan melahirkan kesucian batin.
Sesungguhnya tapa berarti mengusahakan kesatuan fisik, vokal, dan mental dengan mengusahakan satunya perbuatan, perkataan, dan pikiran. Inilah tapa yang sejati. Seorang mahatma, seorang jiwa besar, adalah orang yang mampu menikmati kesatuan dari ketiga hal ini. Jika pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak sama maka seseorang tidak bisa dinamakan orang besar. Tapa berarti memusnahkan sifat rajo dan tamo 'sifat yang penuh nafsu dan malas' dengan cara menyatukan kedua sifat itu dengan sifat satwa yang harmonis. Hal ini dapat ditimbulkan dengan mengendalikan tamo guna dengan bantuan rajo guna; dengan jalan itu engkau dapat menikmati keselarasan ketiga sifat yang telah menyatu itu. Akhirnya engkau harus mengatasi pengaruh satwa guna itu sendiri.
Misalnya engkau menginjak duri. Jika engkau ingin mencabut duri itu dari kakimu, engkau tidak perlu mencari alat khusus. Duri yang lain dapat dipakai untuk mencabut yang pertama. Kemudian engkau dapat membuang kedua duri itu. Demikian pula kedua guna yang lebih rendah yang selalu menyusahkan engkau, dapat dilenyapkan dengan duri satwa guna. Sebelum kedua guna itu lenyap, engkau memerlukan satwa guna. Satwa guna dapat digambarkan sebagai rantai emas, rajo guna sebagai rantai tembaga, dan tamo guna sebagai rantai besi. Ketiga rantai itu sama-sama mengikat dirimu. Nilai masing-masing logam mungkin berbeda, namun semuanya mengikat.
Jika seseorang terikat oleh rantai emas, apakah ia akan merasa bahagia? Tentu tidak! Apa pun bahan rantai itu apakah emas, tembaga, atau besi; belenggu tetap belenggu. Karena itu satwa guna sekalipun menyebabkan keterikatan, dan akhirnya engkau harus pula melepaskannya. Engkau harus membebaskan dirimu dari segala ikatan; tetapi sebelum engkau mencapai Tuhan, engkau masih membutuhkan satwa guna. Setelah engkau manunggal dengan Tuhan, satwa guna tidak lagi. Dalam keadaan seperti itu tidak ada lagi masalah tiga guna itu. Hanya bila engkau telah mempersembahkan ketiga sifat itu kepada Tuhan dan mampu melampauinya, engkau akan terbebas dari ikatan rantai itu.
Gita telah mengajarkan bahwa untuk mengendalikan pikiran, abhyasa dan wairagya 'pengamalan yang tiada putusnya dan pengunduran diri' sangat penting. Latihan atau pengamalan tidak hanya berarti melakukan upacara keagamaan setiap hari. Menggunakan badan, pikiran, dan ucapan sedemikian rupa sehingga engkau tidak terjerat dalam keterikatan, itulah yang dimaksud dengan pengamalan. Pengamalan atau latihan artinya mengarahkan seluruh hidupmu untuk mencapai Tuhan. Setiap kata yang kau ucapkan, setiap gagasan yang kau pikirkan, dan setiap kegiatan yang kau lakukan harus suci dan selalu mengarah pada kebenaran. Kebenaran dan kesucian adalah alat yang sejati untuk melaksanakan tapa. Aku menghimbau agar engkau membina sifat-sifat mulia ini sehingga dengan demikian hidupmu akan tersucikan.

PENGUNDURAN DIRI YANG SEJATI IALAH MEMUSATKAN PIKIRANMU KEPADA TUHAN



 
Setelah engkau mengetahui cacat dan kelemahan pada benda-benda duniawi, engkau tidak lagi ingin memiliki benda-benda itu. Jika engkau ingin mencapai Tuhan dan mendapat penampakan-Nya, sifat paling penting yang harus kau kembangkan adalah wairagya 'ketidakterikatan' atau pengunduran diri dari keduniawian. Ketidakterikatan memberi engkau kemampuan untuk mengarahkan pandanganmu ke dalam batin; hal ini memungkinkan engkau mengarahkan perhatian pada pikiranmu ke alam batin dan menghayati keindahannya. Pikiran itu sangat kuat dan berubah terus, ia bertekad mencapai tujuan. Arjuna memohon kepada Krishna agar membantunya dalam pengendalian pikiran. Ia berkeluh kesah, "Ya Tuhan, pikiranku sangat kuat dan tetap berontak." Krishna menjawab, "Arjuna, jika engkau melaksanakan ketidakterikatan, engkau pasti mampu mengendalikan pikiranmu."
Pikiran dapat diumpamakan sebagai pohon pipal. Ada angin atau tidak daun pipal selalu bergetar. Demikian pula pikiran selalu berubah dan mudah terombang-ambing. Di samping itu, pikiran sangat kuat dan keras kepala. Misalkan saja gajah, binatang ini juga sangat kuat dan kadang-kadang amat galak. Namun, dengan tongkat yang berujung runcing engkau dapat menguasainya. Kuda tidak pernah diam; itulah sebabnya ia dinamakan ashok yang artinya 'bergerak terus'. Ia selalu menggerakkan kakinya, telinganya, kepalanya, atau ekornya. Karena ingin bergerak terus, ia berjalan kian kemari, tetapi dengan tali kekang ia dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan kehendak sang penunggang.
Contoh lain adalah kera yang suka berkelana kian kemari, mencerminkan ketidaktenangan dan ketidaktetapan; tetapi dengan latihan, ia pun dapat dikendalikan. Karena itu, sebagaimana halnya dengan tongkat engkau dapat mengendalikan gajah yang mungkin sangat galak dan kuat, sebagaimana halnya dengan kekang engkau dapat mengendalikan kuda yang sangat gelisah dan tidak tenang, sebagaimana halnya dengan latihan, kera pun dapat dikendalikan, demikian pula pikiran yang juga kuat dan tidak tetap, dapat dikendalikan dengan ketidakterikatan dan latihan terus menerus, dengan kata lain dengan wairagya dan abhyasa.
Ketidakterikatan berarti menyadari sifat benda-benda yang sementara dan tidak membiarkan pikiran serta perasaan terikat pada hal-hal yang fana ini. Ini tidak berarti bahwa engkau merasa muak atau benci pada benda-benda itu, melainkan dalam hati engkau tidak terikat kepadanya. Tidak mungkin kita bersikap sama sekali tidak acuh pada benda-benda duniawi. Namun, engkau dapat meniadakan rasa "milikku", rasa memiliki. Bila engkau telah menghilangkan rasa memiliki itu, engkau dapat maju terus dan menikmati berbagai macam benda duniawi, hal itu tidak akan membahayakan. Dalam dunia yang fana ini segala sesuatu, setiap orang, dan semua benda mengalami perubahan. Dunia terdiri dari tiga macam perubahan, tumbuh, hidup, dan mati. Semua benda tunduk pada perubahan ini. Jika engkau mengkhayal bahwa dunia yang bersifat sementara dan tidak langgeng ini adalah abadi, dan engkau terikat pada benda-benda yang ada di dalamnya, itu sungguh-sungguh pikiran sinting.
Dalam pura Wisnu engkau akan melihat gambar Garuda. Dalam pura Shiwa engkau akan menemukan gambar Nandi 'lembu jantan'. Dalam pura Rama engkau akan melihat gambar Hanuman atau kera. Semua itu menggambarkan keterikatan yang benar yaitu keterikatan kepada Tuhan yang abadi dan ketidakterikatan pada dunia yang bersifat sementara. Seluruh perhatian Nandi, Garuda, dan Hanuman terpusat pada kaki Tuhan, mereka hanya melihat Tuhan, bukan dunia. Makna gambar itu adalah engkau tidak boleh terlalu memikirkan yang bersifat sementara, melainkan selalu memusatkan diri dan merenungkan yang bersifat abadi yaitu Tuhan itu sendiri. Bila engkau telah menyadari cacat benda-benda duniawi, sifat kesementaraannya dan ketidaklanggengnya, maka lambat laun engkau tidak ingin memilikinya. Banyak cerita yang menunjukkan bahwa Adiraja yang kaya raya, memiliki kemewahan dan harta benda yang tak terhingga, tidak mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian hati dari kekayaan tersebut. Untuk mendapat kedamaian mereka pergi ke hutan dan bertapa. Di sini mereka mendapat kepuasan hati dan hiburan batin yang mereka dambakan.
Ketidakterikatan tidak hanya berarti menyadari kekurangan dan kelemahan benda-benda yang bersifat sementara itu. Ada juga sifat positifnya, yaitu memanfaatkan sebesar-besarnya benda-benda duniawi itu. Engkau harus selalu berusaha menggunakan benda itu sebaik-baiknya dan memberikan penghargaan semestinya. Hanya dengan menyadari keterbatasan dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh benda-benda duniawi itu, engkau tidak akan memperoleh kebahagiaan. Engkau harus pula mengetahui bagaimana cara menggunakan benda itu untuk melakukan tugasmu di dunia, dengan demikian engkau akan memperoleh kepuasan batin. Dalam arti yang lebih luas, ketidakterikatan yang sejati adalah membuang kesengsaraan dunia dan memperoleh kebahagiaan batin. Meninggalkan keluarga, istri, anak, dan harta milik lalu pergi ke hutan tidak dapat dinamakan ketidakterikatan. Ketidakterikatan sesungguhnya adalah menyadari kelemahan suatu benda disamping menyadari segi-segi positifnya.
Bila engkau menemui kesulitan, entah fisik, mental, keuangan, atau kesulitan apa pun, mungkin engkau lalu mengembangkan perasaan tidak terikat pada objek yang menyebabkan keadaan itu. Hal ini wajar. Misalnya, seseorang meninggal dan jenazahnya dibawa ke tempat perabuan untuk dikremasikan. Bila engkau melihat situasi tersebut engkau mengalami ketidakterikatan tertentu dan berfilsafat bahwa badan kita ini suatu ketika harus lenyap. Tetapi ketidakterikatan ini hanya sementara, perasaan sementara, tidak dapat dianggap sebagai wairagya sejati.
Contoh lain ialah bila seorang ibu sedang melahirkan; karena tidak dapat menahan sakit, ia berteriak bahwa ia lebih suka mati. Ini juga bukan ketidakterikatan yang sejati. Sesudah bayinya lahir, misalnya bayi itu perempuan, segera ia ingin agar lain kali mendapat bayi laki-laki. Situasi yang sama terjadi jika seseorang tidak berhasil mencapai hal yang diinginkannya, di sini pun ia mengalami semacam ketidakterikatan. Semua sikap ini bersifat sementara, lain sekali dengan ketidakterikatan yang langgeng.
Ketidakterikatan yang langgeng disebut pula ketidakterikatan yang kuat, bertentangan dengan ketidakterikatan yang loyo atau lemah. Seseorang mungkin telah bertekad untuk berziarah ke salah satu dari tempat-tempat suci di India, namun lalu ada keinginan yang kuat untuk menundanya hingga bulan berikutnya. Bila untuk mengerjakan sesuatu yang baik, seperti misalnya berziarah, orang akan cenderung ingin menundanya. Sebaliknya, kalau untuk mengerjakan hal-hal yang tidak baik, orang ingin melakukannya segera di tempat itu juga tanpa membuang waktu. Biasanya orang tidak berusaha keras untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Hal ini dapat disebut sebagai wairagya yang lemah yang berkecenderungan menunda pelaksanaan niat-niat yang baik atau perbuatan-perbuatan yang baik. Tetapi sikap semacam itu tidak akan membantu engkau mencapai tujuan spiritual. Hanya wairagya yang kuat, ketidakterikatan yang kuat yang amat penting untuk mencapai kemajuan dalam kehidupan spiritual.
Jika engkau beranggapan bahwa suatu perbuatan adalah baik dan suci, janganlah hal itu kau tunda. Engkau harus segera melaksanakannya dan mengusahakan agar perbuatan baik ini selesai dengan sukses. Inilah jalan yang mudah ditempuh yang diajarkan oleh sang Buddha bagi semua manusia. Setelah Gautama Buddha menyadari bahwa badan ini tidak langgeng bahwa tidak ada satu benda duniawi pun yang dapat bertahan selamanya, Beliau bertekad akan mencari dan menemukan kebenaran yang abadi. Beliau meninggalkan keluarganya, kerajaannya, dan pergi ke hutan untuk mencapai penghayatan kesunyatan. Ada lagi seorang raja besar yang mempunyai jiwa pengorbanan dan ketidakterikatan yang kuat yaitu Harischandra. Walaupun sebenarnya ia adalah Adiraja, karena suatu kemalangan ia menjadi penunggu tempat perabuan.
Pada suatu hari, ketika Harischandra pertama kali melakukan tugasnya di tempat perabuan, ada jenazah seorang kaya yang dibawa ke sana oleh sejumlah besar handai taulan. Mereka membawa jenazah itu, membakarnya, dan segera kembali ke rumah masing-masing. Biasanya bila jenazah dibakar, harus ditaruh beban diatasnya sebab jika dipanasi jenazah itu akan melengkung seolah-olah akan bangun, dan kemudian terbaring kembali. Hari itu hanya Harischandra yang tetap tinggal di tempat perabuan, di antara teman dan kaum kerabat orang yang meninggal itu tidak ada seorang pun yang tinggal untuk memperhatikan jenazah tersebut. Harischandra pergi untuk mengambil kayu api lagi, tiba-tiba ia melihat jenazah itu bangun. Ia sangat terkejut lalu datang mendekat untuk mengamatinya.
Ketika Harischandra mendekati api, ia melihat jenazah itu telah kembali dalam posisi berbaring. Beberapa saat ia mengira bahwa jenazah itu hidup, duduk seolah-olah mencari keluarga dan kawan-kawannya, namun segera ia menyadari bahwa apa yang terjadi itu hanyalah ilusi sementara seakan-akan mayat itu hidup karena panas api. Harischandra berpikir, "Seperti aku mengira mayat itu hidup, aku mengira dunia ini pun nyata. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Dunia ini hanya tampaknya saja seakan-akan nyata." Harischandra menyayangkan bahwa orang sekaya itu tidak mempunyai sanak keluarga atau teman yang mau menunggu pembakaran jenazahnya sampai selesai. Ia berpikir, bagaimana pun kedudukan dan kekayaan seseorang, setelah ia meninggal, istri dan anak-anaknya sekalipun tidak merasa terikat kepadanya. Setelah mengalami hal ini Harischandra mempunyai rasa ketidakterikatan yang kuat terhadap benda-benda dan wujud keduniawian.
Setiap hari, bahkan setiap saat terjadi perubahan dalam semua benda di dunia ini. Perubahan ini tidak semu, bukan khayalan, tetapi alamiah dan merupakan sifat yang wajar pada setiap benda. Bila engkau telah menyadari bahwa dunia ini pada dasarnya merupakan panggung bagi terjadinya perubahan alamiah yang tak putus-putusnya dan bahwa perubahan itu telah menjadi sifat benda-benda duniawi, maka engkau akan bebas dari kesengsaraan. Siapa saja yang menyadari bahwa ada racun yang membawa maut dalam gigi ular berbisa, tidak akan mendekatinya. Jika engkau melihat seekor kalajengking dengan ekornya yang tegak ke atas mendekati engkau dan siap menyengatmu, tidakkah engkau lari menjauhinya? Hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa atau orang yang bodoh sekali akan mendekati binatang itu sehingga kena sengatannya dan meninggal.
Tuhan telah mengajarkan dalam Gita bahwa daripada menderita karena keterikatan dan mengalami kekecewaan bila harus terjadi perubahan, jauh lebih baik bila sejak semula tidak terikat pada benda dan hal-hal yang bersifat duniawi. Namun kini engkau terus merencanakan berbagai hal dan menginginkan macam-macam agar dapat memperoleh kebahagiaan yang sementara. Engkau menghabiskan tenagamu sendiri untuk memikirkan dan membuat rencana. "Aku mau membuat ini, aku mau membuat itu," atau "Aku akan mengerjakan ini, bukan itu," dan melibatkan diri dalam bermacam-macam proyek dan kegiatan. Tetapi engkau harus menanggung akibatnya dikemudian hari.
Bibit apa pun yang kau tanam melalui perbuatanmu akan matang dan kembali kepadamu dalam bentuk panen yang merupakan akibat dari perbuatanmu itu sendiri. Jika bibit itu tergolong pada suatu varietas tertentu, engkau tidak bisa berharap dapat memperoleh kembali akibat dari jenis yang lain. Apa pun perbuatan yang kau lakukan, buahnya yang sesuai akan diberikan kepadamu dalam bentuk karangan bunga yang dikalungkan pada lehermu. Pada waktu engkau lahir dari rahim ibumu, tidak ada kalung atau karangan bunga yang terlihat. Tidak ada rangkaian mutiara, tidak ada untaian batu permata, juga tidak ada kalung emas di lehermu, namun suatu kalung pasti ada pada lehermu. Kalung itu terangkai dari akibat-akibat perbuatanmu pada masa lalu yang telah kau lakukan pada kelahiran-kelahiran sebelumnya. Kalung itu yang diberikan kepadamu oleh Sang Pencipta akan menghias lehermu walaupun tidak tampak oleh mata biasa. Orang yang menyadari kebenaran bahwa setiap perbuatan akan menimbulkan akibat akan melakukan pekerjaan yang baik-baik saja dan akan memanfaatkan hidupnya hanya untuk melakukan perbuatan yang akan memberinya hasil yang baik. Hal ini telah diajarkan dalam Gita sebagai kegiatan spiritual yang sangat penting bagi para pengabdi. Pengamalan ini akhirnya akan membuat engkau mengabaikan dan tidak menginginkan hal-hal yang bersifat duniawi dan akan menghasilkan kebijaksanaan sejati. Ada sebuah contoh yang menggambarkan sifat dunia yang maya ini dan ketidakterikatan kepada maya yang harus kau miliki.
Raja Janaka memiliki keahlian yang luar biasa dalam Brahmajnana 'pengetahuan mengenai Brahman'. Ia dinamakan "Raja Wideha". Wideha artinya 'tiada jasmani', dengan kata lain, orang yang tidak mempunyai rasa kesadaran jasmani. Pada suatu malam setelah makan ia membicarakan masalah administrasi dengan para menterinya. Ia agak terlambat kembali ke ruang tidurnya. Makanan telah disiapkan, tetapi tidak disentuhnya. Ia duduk santai di atas sofa dan permaisurinya memijat kakinya. Raja Janaka segera tertidur. Permaisuri menyuruh semua dayangnya meninggalkan ruangan agar raja yang sangat lelah tidak terganggu. Raja diselimuti, lampu dikecilkan, dan Permaisuri duduk menungguinya. Tak lama kemudian Raja Janaka membuka mata, duduk, kemudian memandang ke sekelilingnya dengan heran bercampur ragu, dan sangat aneh ia bertanya, "Apakah ini nyata, atau apakah itu nyata? Apakah ini benar-benar atau apakah itu yang benar?"
Permaisuri agak ketakutan karena pandangan raja yang seakan-akan kebingungan dan pertanyaannya aneh, ia mencoba menanyakan apa sebenarnya maksud pertanyaan itu, tetapi raja tidak menjelaskan atau menjawabnya. Raja tetap bertanya, "Apa ini benar, apa itu yang benar?" Permaisuri memanggil para menteri, penasehat, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Mereka berkumpul lalu bertanya kepadanya, "Maharaja, apa gerangan yang membingungkan Yang Mulia? Apa sebenarnya Yang Mulia tanyakan?" Namun, raja tidak menanggapi pertanyaan mereka. Akhirnya menteri memanggil Pandita Agung Washishta di balairung. Resi Washishta bertanya kepada raja, "Apa yang Baginda tanyakan? Apakah yang membingungkan Baginda? Kiranya saya bisa menjelaskan." Raja menjawab semua pertanyaan dengan pertanyaan pula, "Apa itu kebenaran, apa ini kebenaran? Apa ini kenyataan, apa itu kenyataan?"
Resi Washishta yang maha mengetahui itu memejamkan matanya dan melakukan meditasi sejenak untuk mengetahui apa yang menyebabkan raja berbuat aneh. Washishta tahu bahwa Raja Janaka secara tiba-tiba terbangun dari mimpi. Dalam mimpinya itu ia kehilangan kerajaannya lalu berkelana seorang diri dan merana di hutan. Ia merasa amat lapar, lelah, dan terpencil. Sementara mengembara dalam hutan, ia tak henti-hentinya berseru, "Aku lapar, aku lapar." Kebetulan ada beberapa perampok di hutan itu. Mereka sedang duduk di lapangan di dekatnya siap akan makan dengan menggunakan piring dari daun-daunan. Para perampok itu merasa iba melihat Janaka lalu mengajaknya ikut makan.
Pada saat itu juga datanglah seekor harimau. Mereka semua lari untuk menyelamatkan diri. Harimau itu melahap makanan mereka. Janaka dengan terhuyung-huyung berjalan lagi dalam hutan seraya berseru, "Oh, aku lapar. Aku sangat lapar." Ketika terbangun, didapatinya dirinya berada dalam istana di atas kursi kerajaan serta didampingi oleh Permaisuri. Di atas meja di dekatnya ada baki perak penuh dengan makan yang mewah dan sangat lezat. Ia mulai bertanya apakah ia adalah orang yang kelaparan yang merana seorang diri, meminta-minta makanan dari perampok dalam hutan yang seram ataukah ia adalah seorang Adiraja yang tinggal dalam istana megah di tengah-tengah segala kemewahan. "Apakah ini benar ataukah itu benar?"
Segera Maharesi Washishta mengetahui apa yang membingungkan sang raja lalu berkata, "Baginda Janaka, tak satu pun dari dua peristiwa ini benar. Anda sajalah yang benar. Anda, Anda sendirilah kebenaran. Anda yang hadir sebagai kesadaran murni, baik dalam keadaan mimpi maupun dalam keadaan jaga, Anda yang menyaksikan kedua keadaan ini, itulah kenyataan yang sejati. Hidup merupakan mimpi malam. Keduanya maya, penuh dengan cacat dan cela karena semua itu terus berubah, dari suatu benda ke benda lain; maka semua itu tidak sejati. Hanya Anda yang tetap tidak berubah dalam semua keadaan ini adalah kenyataan yang sejati, bebas dari segala perubahan dan maya." Hal ini juga ditekankan dalam Gita ketika Krishna menjelaskan kebenaran yang penting bahwa dunia ini selalu berubah dan hanya diri sejati sajalah yang tidak berubah.
Swami telah menjelaskan sebelumnya bahwa ketidakterikatan tidak berarti meninggalkan segala sesuatu lalu pergi ke hutan dan hidup sebagai sanyasin. Tapa brata tidak dimaksudkan sebagai sikap badan yang tertentu atau mati raga. Yang dimaksud dengan tapa adalah kesedihan sangat mendalam yang kau alami bila engkau merasa terpisah dari Tuhan. Bila engkau menanggung penderitaan batin karena keterpisahan ini, maka di mana pun engkau berada, engkau melakukan tapa. Selama mengalami kesedihan yang mendalam ini dan aspirasi yang kuat untuk mencapai Tuhan, engkau tidak akan terpengaruh oleh ketiga guna atau ketiga sifat yaitu tamas, rajas, dan satwa. Pada waktu itu semua guna akan lebur menjadi satu. Penyatuan ketiga guna inilah yang dinamakan tapa. Inilah yang menimbulkan kebahagiaan yang tak terlukiskan, yaitu kebahagiaan ananda. Jadi, tapa yang sejati ialah suatu keadaan ketika ketiga guna itu menyatu dan menimbulkan ananda atau kebahagiaan abadi. Untuk lebih mengerti hal ini, perhatikan contoh dari kehidupan kita sehari-hari.
Setiap hari engkau menikmati manfaat listrik. Ada kipas listrik di kamarmu. Tiga buah daun kipas dihubungkan dengan mesin kipas. Jika daun-daun kipas itu berputar ke arah yang berbeda-beda, kipas itu tidak akan menghasilkan banyak angin. Tetapi jika daun-daun kipas itu berputar ke satu arah, seolah-olah hanya satu daun yang berputar, maka engkau dapat menikmati angin yang menyenangkan dari kipas itu. Jadi, kesejukan angin hanya timbul bila ketiga daun bekerja sama dan berputar searah. Demikian pula, bila ketiga guna menyatu dan bekerjasama, engkau akan mendapat kebahagiaan. Dalam gambaran ini, hatimu dapat diumpamakan sebagai kamar yang berisi kipas. Budi atau intelek sebagai tombol listrik. Kekuatan spiritualmu, energi yang berasal dari atma, dapat diumpamakan sebagai listrik yang menggerakkan kipas. Sadhana adalah proses penjernihan intelek yang memutar tombol untuk menyalakannya. Bila ketiga guna ini bekerja sama dengan harmonis, sama seperti daun-daun kipas itu, maka seluruh penderitaan batinmu akan berubah menjadi kebahagiaan. Dengan cara ini engkau dapat mengubah tenaga hidupmu dan seluruh kemampuan rohanimu menjadi tapa dan kebahagiaan.
Dewasa ini orang bukannya mengikuti jalan tapa guna, melainkan cenderung mengikuti tamo guna yaitu bermalas-malas dan enggan berpikir. Ia mengabaikan dan melupakan kemampuannya untuk melaksanakan tapa. Bila engkau membiarkan pandangan bebas berkelana dalam dunia yang bersifat sementara dan cepat berlalu, hal ini akan menjadi tamas. Bila engkau memusatkan pandangan dan kesadaranmu pada Tuhan yang kekal, makan ini menjadi tapas. Swami telah sering memberikan contoh ini. Misalnya ada pintu terkunci. Jika engkau ingin membukanya engkau harus memasukkan kunci pada lubang kunci dan memutarnya ke kanan, pintu akan terbuka, Tetapi, jika engkau memutarnya ke kiri, pintu akan tetap terkunci. Padahal kunci dan anak kuncinya sama. Bedanya hanya cara engkau memutar kunci itu. Jika kau putar pikiranmu ke arah Tuhan engkau mendapat kebebasan. Jika engkau memutarnya ke arah benda-benda duniawi, engkau tetap terikat. Pikiran yang sama itu menjadi sumber kebebasan atau keterikatan.
Wairagya sejati atau pengunduran diri adalah pemusatan pikiran kepada Tuhan, kepada perwujudan yang kekal. Ketidakterikatan dan pengorbanan ini harus dirasakan betul-betul. Jangan kau biasakan menunda-nunda latihan rohanimu. Misalnya engkau akan menghadiri perkawinan, engkau menyiapkan pakaian jauh-jauh hari sebelumnya. Atau misalkan engkau kebetulan ingin nonton bioskop, engkau cepat-cepat menyiapkan diri. Bahkan untuk jalan-jalan saja engkau segera siap. Bila engkau tidak bisa nonton bioskop hari ini, engkau dapat dengan mudah menundanya hari berikutnya. Jika engkau tidak dapat bisa jalan-jalan sekarang, bisa saja engkau melakukannya pada saat yang lain. Tetapi, perjalanan menuju Tuhan tidak dapat ditunda atau dibatalkan. Engkau harus selalu siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Waktu tidak bisa menunggu. Waktu tidak mengikuti kita, kitalah yang harus mengikuti waktu. Waktu terus berlalu dan membawa segala sesuatu bersamanya.
Gita mengajarkan kepadamu bahwa engkau boleh menikmati benda-benda duniawi, tetapi sementara itu engkau tidak boleh membiarkan dirimu terikat kepada benda-benda itu dengan anggapan bahwa engkau memilikinya. Rasa pengunduran diri atau ketidakterikatan ini adalah salah satu aspek filsafat kerohanian yang paling penting diutarakan dalam Gita.

CINTA KASIH DAN PENGORBANAN, OBAT UNTUK AMARAH DAN NAFSU



 
Amarah lahir dari nafsu. Nafsu timbul dari pikiran. Karena itu, pikiranlah yang bertanggung jawab atas amarah dan nafsu. Engkau tidak dapat memperoleh kain tanpa benang dan benang tanpa kapas, demikian pula engkau tidak dapat memperoleh amarah tanpa nafsu, dan nafsu tanpa pikiran. Dalam Gita, Guru Dewa menamakan nafsu dan marah itu analam, secara harfiah artinya 'api'. Ada bahaya terkena panasnya api walaupun api itu agak jauh dari engkau. Bila api yang menyala di luar dirimu berbahaya, maka betapa engkau harus lebih berhati-hati bila api itu berkobar dalam hatimu. Api hawa nafsu dan amarah ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menghancurkan seluruh kualitas manusia dan memadamkan percikan ketuhanan yang ada dalam hatimu sehingga hanya sifat setan yang masih ada. Api nafsu ini tidak mempunyai tujuan jangka panjang; ia tidak akan reda setelah mencapai suatu tujuan; sebaliknya, ia tidak pernah merasa puas. Seleranya yang menggelora tak kunjung padam. Bahan bakar apa pun engkau masukkan ke dalam api, entah kayu, minyak, atau yang lain-lain, tidak akan pernah cukup Kata alam berarti 'kepuasan', dan analam artinya 'tanpa kepuasan'. Api nafsu dan amarah ini yaitu analam, tidak mengenal kepuasan sama sekali.
Hampir semua barang di dunia ada batasnya, tetapi lapar api ini tidak mempunyai batas sama sekali. Karena sifatnya seperti itu, bagaimana cara mengendalikannya? Tuhan berkata dalam Gita, "Engkau dapat menaklukkan nafsu dengan penyangkalan diri dan pengorbanan." Di mana ada cinta kasih, di sana tidak akan ada amarah. Jika engkau mengembangkan cinta kasih, tidak akan ada tempat di hatimu bagi kebencian dan amarah. Hati itu ibarat kursi untuk satu orang, hanya dapat diisi dengan satu kualitas, kualitas lain tidak dapat masuk atau mendudukinya pada saat yang sama. Seorang pengabdi harus berusaha membina kasih dalam hatinya. Jika engkau hendak menaklukkan amarah dengan cinta kasih, engkau harus mengembangkan cinta kasih dengan cara yang mulia. Cinta kasih selalu bersedia memancar bebas, memaafkan atau mengabaikan cacat cela dan kelemahan orang lain. Cinta kasih mempunyai kualitas yang luar biasa, ia hidup dengan memberi dan memaafkan, sedangkan ego atau sang 'aku kecil' hidup dengan memberi dan memaafkan, sedangkan ego atau sang 'aku kecil' hidup dengan mendapat dan melupakan. Di mana ada cinta kasih, tidak ada tempat bagi egoisme, dan di mana ada egoisme, tidak akan ada cinta kasih.
Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak dapat kau capai bila engkau memancarkan cinta kasih. Dengan cinta kasih engkau dapat mengatasi segala hambatan. Karena itu, untuk mengalahkan amarah secara tuntas, engkau harus mengisi hatimu dengan cinta kasih dan menjadikan kasih sebagai suatu kemampuan yang berpengaruh atau paling penting dalam hidupmu. Bila engkau menyadari bahwa penghuni hatimu adalah penghuni setiap hati manusia, bahwa Tuhan yang kau puja yang duduk di singgasana hatimu juga bersemayam dalam setiap hati manusia maka tidak mungkin engkau bisa membenci atau marah pada siapa pun juga di dunia ini. Bila Tuhan Yang Esa itu ada dalam setiap hati manusia, bagaimana mungkin engkau memandang rendah dan menghina orang lain. Karena itu, penuhilah dirimu dengan kasih dan binalah hingga tak terhapuskan lagi dari dalam hatimu.
Seperti telah diutarakan sebelumnya oleh Swami, bila cinta kasih dikaitkan dengan pikiran, ia menjadi kebenaran, bila cinta kasih dijadikan dasar perbuatan, perbuatanmu menjadi dharma, bila perasaanmu dijiwai oleh cinta kasih, hatimu penuh dengan kedamaian yang tertinggi, dan bila engkau menjadikan cinta kasih sebagai penuntun pengertian dan cara berpikirmu, maka akal budimu akan dijiwai oleh sikap tanpa kekerasan. Karena itu, kasih adalah kebenaran, kasih adalah kebajikan, kasih adalah kedamaian, kasih adalah tanpa kekerasan. Semua sifat yang agung itu didasari oleh cinta kasih. Jika pikiranmu tidak dijiwai oleh cinta kasih, tidak akan ada kebenaran. Jika cinta kasih tidak menjiwai perbuatanmu, tidak akan ada dharma. Jika engkau tidak merasakan cinta kasih dalam hatimu, tidak akan ada kedamaian. Dan jika engkau tidak melandasi pikiranmu dengan cinta-kasih, tanpa kekerasan tidak akan menetap dalam akal budimu. Jadi, seperti gula adalah bahan baku dari segala macam gula-gula, demikian juga cinta kasih adalah bahan pokok untuk sathya 'kebenaran', dharma 'kebajikan', shanti 'kedamaian', dan ahimsa 'tanpa kekerasan. Cinta kasih adalah ketuhanan itu sendiri. Cinta kasih adalah Tuhan dan Tuhan adalah cinta kasih. Cinta kasih adalah kemampuan Tuhan yang menghidupkan segala-galanya. Dengan cinta kasih engkau dapat dengan mudah mengalahkan kebencian dan kemarahan. Karena itu, hiduplah selalu dalam kasih.
Amarah dapat menjadi sumber bermacam-macam kesulitan dan menghadapkan engkau pada masalah yang tak terhitung banyaknya. Ia menghancurkan kewibawaanmu dan meruntuhkan prinsip kemanusiaan pada dirimu. Mula-mula amarah masuk dalam bentuk yang sangat halus dan lambat laun memenuhi semuanya. Pada mulanya ketika ia masuk, ia hanya minta tempat yang kecil. "Berilah aku tempat duduk sedikit saja," katanya. Bila sudah mapan, ia berkata, "Sekarang aku akan membuat tempat untuk berbaring dan tinggal di sini." Tetapi, sifat buruk semacam itu jangan kau beri tempat sedikit pun di dalam hatimu. Sekali kau biarkan rasa marah memasuki dirimu, tidak akan mungkin menyingkirkannya. Walau kau jadikan dia teman dan kau beri uang lima juta rupiah ia tidak akan mau meninggalkan engkau. Ia adalah racun paling berbahaya yang tidak boleh kau beri tempat berpijak sedikit pun dalam dirimu.
Pada mobil, lampu belakang terus memberi tanda (peringatan) sebelum mobil berhenti. Demikian pula sebelum kemarahanmu meledak, matamu menjadi merah, bibirmu gemetar, dan seluruh badan menjadi panas. Pada saat engkau menunjukkan gejala ini, sebaiknya tinggalkan segera tempat itu dan carilah tempat yang sepi lalu duduklah sampai perasaanmu tenang kembali. Seperti telah Kukatakan kemarin, dapat juga engkau mandi air dingin. Bila rasa marah dinyatakan dalam kata-kata, hal itu dapat menimbulkan komplikasi dan masalah yang tidak ada habis-habisnya kelak. Walaupun marahmu dapat dibenarkan dan untuk mempertahankan kebenaran, engkau tetap harus belajar untuk mengatakan kebenaran itu dengan cara yang manis yang simpatik, dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain, tanpa menyakiti perasaan orang lain. Karena itu, setiap pengabdi harus belajar mengendalikan amarahnya dengan mengembangkan dan mengisi hatinya dengan cinta kasih.
Sekarang baiklah kita bicarakan tentang bagaimana mengatasi nafsu. Untuk mengalahkan nafsu engkau harus mengembangkan sifat suka berkorban, engkau harus benar-benar mempraktekkan penyangkalan diri. Penyangkalan diri tidak berarti bahwa engkau meninggalkan keluarga dan pergi ke hutan; juga tidak berarti bahwa engkau harus meninggalkan harta bendamu dan menjadi pertapa. Sesudah engkau menyadari cacat suatu benda, sesudah engkau mengetahui sifat kesementaraannya dan bahwa ia tidak berguna dalam usahamu mencapai tujuan, dengan sendirinya engkau tidak akan menginginkannya lagi, bahkan pada waktu menempuh hidup berumah tangga yang penuh dengan kesibukan duniawi, engkau dapat mengetahui cacat dan kelemahan hal-hal yang bersifat duniawi. Umpamanya, barangkali ada makanan tertentu yang sangat kau sukai, mungkin di piringmu telah tersedia beraneka ragam hidangan yang terbuat dari makanan itu, dan engkau telah siap akan menyantap dengan penuh selera, tetapi tiba-tiba juru masak datang dan berkata. "Tuan, jangan makan hidangan itu, ada serangga beracun yang jatuh dan mati di dalamnya." Begitu engkau mendengar hal ini dan tahu kalau makanan itu berbahaya bila dimakan, engkau tidak akan mau memakannya sekalipun sebelumnya engkau sangat menyukai hidangan itu dan ingin sekali menikmati.
Begitu pula engkau harus mengetahui sifat atau keadaan benda-benda duniawi. Mereka terus mengalami perubahan dan pada suatu saat kelak tidak ada lagi. Setelah menyadari hal ini, bagaimana mungkin engkau tetap ingin mendapatkan dan ingin terus menikmatinya? Makanan hanyalah obat untuk penyakit yang disebut lapar. Bagaimana mungkin hal ini dapat menjadi kegemaran yang mewah? Bila engkau sakit dan diberi obat, apakah engkau akan menolaknya jika obat itu terasa tidak enak? Karena itu, ketahuilah kenyataan bahwa benda-benda yang kau pergunakan di dunia ini semata-mata obat untuk penyakit yang kau derita.
Bila penyakit akan sembuh, kebutuhan akan obat berkurang. Bila engkau sehat engkau sama sekali tidak perlu minum obat; tetapi bila engkau harus minum obat yang tepat yang dapat menyembuhkan penyakit. Engkau tidak bisa menolak obat hanya karena kurang enak dan kurang sedap cita rasanya, tetapi ingin supaya sembuh. Sekarang engkau mengejar berbagai hal yang menarik dan enak yang tidak akan menyembuhkan penyakitmu, tetapi sebaliknya akan membahayakan. Engkau gembira karena engkau mengalami hal-hal yang menyenangkan di dunia dan hidupmu sangat senang menikmati berbagai hal yang tampaknya memberimu kesenangan hidup dan kegembiraan. Tetapi semua itu bukan kesenangan yang sejati karena kelak engkau pasti harus menghadapi akibatnya jika sekarang engkau mengumbar dirimu.
Bayangkan sebuah pohon dengan cabang-cabangnya yang berbunga dan berbuah lebat. Pohon itu kelihatan hebat dan menarik. Pada suatu hari pohon ini mengering dan kembangnya berguguran. Apakah karena kekurangan air atau pupuk? Apakah karena lalai memberi makan? Tidak, ada semacam hama yang menyerang akarnya dan mematikan pohon yang indah ini. Demikian pula bila engkau membiarkan hawa nafsu dan kebencian memasuki hatimu, maka pada suatu hari engkau akan hancur secara tiba-tiba. Hal ini pasti terjadi.
Dalam dunia yang fana ini engkau mengira bahwa orang kaya adalah orang yang sangat penting, tetapi dalam dunia spiritual kekayaan duniawi tidak ada artinya. Amal kedermawanan adalah sifat yang jauh lebih besar artinya daripada segala harta kekayaan. Jika tidak ada amal kedermawanan, harta kekayaan tidak ada nilainya sama sekali. Engkau mempunyai empat anak, masing-masing akan meminta hartamu. Yang pertama adalah amal kedermawanan. Yang kedua adalah pemerintah. Yang ketiga pencuri. Dan yang keempat api. Masing-masing ingin mewarisi kekayaanmu, tetapi jika engkau serahkan seluruh kekayaan kepada anak pertama, yaitu amal kedermawanan, maka yang lain tidak akan mendapat bagian. Bila kau dermakan dengan tulus dan ikhlas untuk amal, engkau akan melihat bahwa ketiga lainnya akan menghargai keputusanmu dan tidak akan menuntut hak mereka.
Umpamanya kita mengetahui bahwa pemerintah memberikan pembebasan pembayaran pajak penghasilan bila kita menyumbang untuk amal. Bahkan api pun akan takut kepadamu dan pencuri tidak akan mengganggu engkau. Jadi, bila engkau memberi untuk amal yang diibaratkan sebagai putra yang patut menerima warisan, maka lain-lainnya yang mestinya akan berusaha menuntut kekayaanmu akan menghormati tindakanmu dan tidak ingin mengganggu. Tetapi, bila engkau memiliki harta benda dan tidak melakukan amal kedermawanan, pencuri akan melirik kekayaanmu dan pemerintah juga akan berusaha mengambil bagian dari kekayaanmu itu. Jika mereka berdua karena suatu hal tidak dapat berbuat apa-apa, maka pada suatu hari api akan membinasakan milikmu itu. Karena itu Gita telah menyimpulkan bahwa amal kedermawananlah yang sesungguhnya amat penting, bukan kekayaan.
Begitu pula dalam kehidupan manusia, bukan kefasihan berbicaralah yang penting, melainkan kebenaran yang diucapkan. Jika tidak akan ada kebenaran dalam ucapanmu maka apa pun yang kau katakan tidak akan ada nilainya sama sekali. Gita juga mengajarkan bahwa bukan hidup itu sendiri yang penting, melainkan watak yang baik. Hidup tanpa watak yang baik tidak ada gunanya. Engkau harus mengembangkan watak yang baik dan memperoleh nama yang harum sehingga asas kemanusiaan akan bersinar dalam dirimu. Tugasmu yang amat penting adalah mempunyai pikiran yang baik, perbuatan yang baik, berbicara yang baik, dan hidup yang benar. Engkau harus sangat berhati-hati dengan kata-kata dan perbuatanmu sehingga engkau tidak mendapat nama yang buruk. Daripada hidup seratus tahun sebagai gagak pemakan bangkai binatang lain, jauh lebih baik hidup beberapa saat sebagai angsa dengan nama yang tidak tercela dan watak yang tak bernoda. Gita menamakan manusia yang mulia itu yang hidupnya penuh dengan kebaikan, adalah seorang Paramahamsa (manusia yang sangat suci).
Perbuatan yang baik jauh lebih penting daripada kemampuan fisik. Badan yang tidak digunakan untuk membantu orang lain tidak ubahnya seperti mayat. Gunakanlah badanmu untuk mengabdi umat manusia, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri yang egois. Dewasa ini apa pun yang dilakukan, dipikirkan, atau diucapkan oleh seseorang, terutama terdorong oleh kepentingan diri sendiri. Untuk mengatasi kecenderungan ini engkau harus selalu mencari kesempatan untuk menolong orang lain dan mengembangkan prinsip bhakti sosial ini. Dalam proses ini, dengan perbuatanmu yang baik, seluruh umat manusia akan tersucikan. Sangat sulit untuk lahir sebagai manusia. Engkau harus merenungkan bagaimana caranya memanfaatkan dengan baik kesempatan hidup yang langka ini yang telah dikaruniakan kepadamu, serta mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang akan dapat mengatasi kelemahan nafsu dan amarah yang menyebabkan tersia-sianya kesempatan baikmu ini. Bagaimana caranya mengatasi kebiasaan buruk yang telah mengakar dan menggantikannya dengan kebiasaan baik? Ada sebuah contoh.
Pada suatu hari seekor anjing yang bagus kebetulan masuk ke rumahmu; engkau tidak tahu siapa pemiliknya. Binatang itu sangat menarik. Agar ia mau diam sebentar dan engkau dapat menikmati keindahannya, engkau beri anjing itu makanan. Keesokan harinya kira-kira pada waktu yang sama anjing itu datang lagi dan kau beri makan lagi karena engkau senang dikunjung olehnya. Demikianlah setiap hari anjing itu datang untuk mencari makanan dan lambat laun setelah beberapa lama, rasa sayangmu bertambah dan anjing ini datang secara teratur serta tinggal lebih lama di rumahmu. Suatu saat, ia tidak mau pergi lagi dan sejak waktu itu ia terus tinggal di rumahmu. Tetapi kebahagiaan yang kau nikmati dengan melihat keindahan fisik tidak berlangsung lama; setelah keindahan itu tidak lagi diikuti oleh kebahagiaan, engkau merasa muak. Dalam hal anjing ini, engkau bosan melihatnya terus menerus, lalu engkau mencari akal untuk membebaskan diri dari anjing tersebut.
Mula-mula engkau harus bertanya kepada dirimu sendiri mengapa anjing itu menyukai engkau dan sekarang tinggal di rumahmu. Sebabnya adalah dari sejak semula engkau memberinya makan setiap hari, engkau juga membelainya, mengaguminya dan sangat memperhatikannya. Perbuatan yang berulang setiap hari inilah yang menimbulkan keterikatan antara engkau dan anjing itu. Sekarang engkau harus mengembangkan kebiasaan yang baru (abhyasa) yang akan memutuskan keterikatan ini dan membantumu menyingkirkan anjing itu. Untuk ini cara yang terbaik adalah membalik proses semula yang telah menimbulkan keterikatan dan membuat engkau sangat cinta kepada benda itu.
Dalam masalah anjing ini, jika ia tidak diberi makan selama beberapa hari dan semua orang tidak mengacuhkannya, tidak memperhatikannya sama sekali, maka anjing itu akan segera pergi dengan kemauannya sendiri. Karena itu, kebiasaanlah yang penting, melalui kebiasaan engkau mengembangkan beberapa keterikatan tertentu dan memperoleh sifat-sifat yang tidak diinginkan, dan melalui perbuatan yang berulang-ulang juga engkau dapat mengubahnya. Bhagawad Gita mengatakan bahwa segala kebiasaan dimulai dengan berbuat. Bab Bhakti Yoga ayat keduabelas mengatakan, "Melalui latihan engkau dapat memperoleh ilmu pengetahuan, melalui ilmu pengetahuan engkau dapat menjalankan meditasi, melalui meditasi engkau dapat menumbuhkan semangat pengorbanan, dan hanya bila engkau telah melakukan pengorbanan engkau akan mendapat kedamaian batin." Karena itu, segala sesuatu dimulai dengan abhyasa atau perbuatan yang berulang-ulang.
Selama berkali-kali kelahiran engkau telah terpikat oleh kecantikan dan dikuasai oleh keinginan serta amarah hingga hawa nafsu ini telah mendarah daging. Kini engkau telah menjadi budak nafsu. Sekedar kata-kata tidak akan berhasil menyingkirkannya. Setelah terjadi keterikatan begitu lama, sifat-sifat negatif ini telah berurat akan sehingga walaupun batangnya kau potong pada permukaan, ia akan tumbuh kembali. Bila nafsu telah menjadi bagian dirimu, hanya dengan membalik proses dan dengan mempraktekkan sikap yang tak terpengaruh serta penyangkalan diri, engkau akan mampu menyingkirkan hamba yang telah bersarang dalam dirimu. Mula-mula nafsu sangat menarik dan menyenangkan. Lama kelamaan engkau akan merasa muak, tetapi pada saat itu sudah sangat sulit bahkan sebenarnya hampir tidak mungkin menghilangkannya. Karena itu, yang paling baik bila sejak semula engkau mengembangkan sikap tidak terpengaruh dan penyangkalan diri sebagai bagian dari sifatmu dan jangan memberi tempat atau mementingkan keinginan dan hawa nafsu. Jika engkau tidak mempunyai keikhlasan berkorban dan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, engkau tidak siap menerima rahmat Tuhan.
Sapi atau kuda yang tidak dapat dikendalikan, mobil tanpa rem, atau hidup tanpa pengendalian indera, semuanya berbahaya. Pengendalian indera itu sangat penting. Dalam Yoga Sutra, Patanjali menandaskan perlunya pengendalian yang ketat atas kecenderungan pikiran untuk berlari ke segala jurusan mengikuti nafsu. Pikiran dan indera harus dikendalikan dan dibatasi, bahkan kebahagiaan yang melebihi batas dapat berbahaya. Segala sesuatu ada batasnya, ada batas-batas yang wajar.
Suhu badan yang normal 37°C, jika naik satu derajat saja berarti akan ada suatu penyakit. Hanya bila suhu itu berada pada batas-batas yang tepat, hal itu menandakan bahwa badan kita sehat. Demikian pula tekanan darah kita dikatakan normal bila angka menunjukkan 120 di atas 80. Jika tekanan naik sampai 150 di atas 90, hal itu menandakan kondisi badan kita tidak normal, mungkin suatu tanda bahwa kita sakit. Demikian juga denyut nadi kita seharusnya sekitar 75, jika meningkat akan ada suatu penyakit. Begitu juga dengan matamu, ia berfungsi dengan baik sampai batas cahaya tertentu. Jika cahaya tidak terlalu terang, mata tidak dapat melihat dan akan rusak. Sama halnya dengan telinga, bunyi yang dapat didengar terbatas. Jika tingkat bunyi melebihi batas itu, misalnya di dekat pesawat udara, kereta api, atau pengeras suara, pendengaran akan terganggu.
Kita melihat bahwa hidup ini hampir sama dengan perusahaan terbatas. Jika engkau akan melakukan usaha dagang terlalu luas dengan kemampuan perusahaan yang terbatas, engkau akan menanggung beban terlalu besar. Karena itu, engkau harus membatasi tingkah lakumu dan menempuh hidupmu dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Hal ini juga dapat dinamakan disiplin. Disiplin sangat perlu untuk kemajuan hidup spiritual seseorang, tanpa disiplin, manusia tidak berbeda dengan binatang. Tetapi disiplin pun harus dilaksanakan dalam batas-batas tertentu; bahkan disiplin perlu diatur jika engkau ingin menikmati hidup. Engkau mengetahui bahwa segala sesuatu ada batasnya, jika engkau tetap berada dalam batas-batas itu, engkau tidak akan mengalami kesulitan dalam hidupmu.
Engkau harus memperhatikan dua musuh manusia yang mengerikan ini, yaitu kama dan krodha 'nafsu' dan 'amarah', dan berusahalah mengendalikan mereka. Musuh-musuh ini tidak berada di luar dirimu, melainkan ada dalam dirimu. Jika engkau dikalahkan oleh musuh dalam dirimu, bagaimana engkau berharap dapat mengalahkan musuh di luar dirimu? Tetapi jika engkau mampu menguasai musuh dalam dirimu, musuh-musuhmu yang lain dapat ditaklukkan dengan mudah. Bhagawad Gita mengajarkan bahwa nafsu dan amarah merupakan hambatan utama menuju pembebasan, karena itu penting sekali mereka harus dikuasai. Pada hari mendatang akan kita bicarakan musuh-musuh lain yang menghalangi jalanmu, seperti kedengkian dan kekikiran.
 

Kamis, 20 Januari 2011

memperdengarkan alquran terbukti bisa meningkatkan IQ pada bayi..


Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu.
السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد
Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder.
Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.
Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.
Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini.
Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar.
Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak.
Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu.
Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir. la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya.
Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya.
Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.
Tidak benar semua agama sama, hanya 1 agama benar! Qur'an menulis:Siapa cari agama selain Islam,maka sekali-kali tidak diterima dari-nya, & dia di akhirat termasuk orang2 rugi (QS.3 Ali 'Imran:85).
Tidak sempurna iman seorang muslim sampai dia menyayangi muslim lain seperti dirinya sendiri. Dan salah satu wujud sayang itu ialah amar ma'ruf nahi munkar. Kemunkaran yang meraja lela saat ini ialah "Semua Agama Sama". Mari kita buktikan semua agama tidak sama, hanya Islam saja satu-satunya agama yang TERBUKTI benar!

Subhanallah...1 lagi bukti...
Dari ilmiah.... Islam TERBUKTI Benar...
Dari nalar.... Islam TERBUKTI Benar...
Dari Sejarah.... Islam TERBUKTI Benar...
Dari bahkan Kitab agama lain pun.... Islam TERBUKTI Benar...

====================
APA BUKTI ISLAM BENAR???
Sangat penting untuk ribuan new member yang join tiap hari,tolong klik:
http://islamterbuktibenar.net/?pg=custom&id=4208
====================
Untuk Posting hari lalui:
http://islamterbuktibenar.net/

Klik share,bagikan,kongsi, jempol,like,suka,tag,tandai agar dakwah menyebar ke seluruh pelosok. More like/jempol & More comment = membantu dakwah karena posting ini akan sering muncul di wall member sebagai most recent update.

Allah berfirman: Menyampaikan=Wajib (bukan kata orang)
Qs.3:20 Kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ❤♡ ❥ ♥
Qs.5:92 Kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan dengan terang
Qs.16:82 Kewajiban yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan
Qs.16:125 Serulah pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah & pelajaran baik
Qs.42:48 Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan ❤♡ ❥ ♥
Qs.64:12 Kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan terang

Ayo mari menyampaikan.... SAMPAIKANLAH MESKI CUMA 1 AYAT

Sekali lagi Thanx 2 ALL 4 Support ^_^
TOLONG SAMPAIKAN dengan undang teman pada group ini supaya lebih banyak lagi orang tahu kalau cuma Islam saja satu-satunya agama yg TERBUKTI BENAR ❤♡ ❥ ♥ Semoga Allah